Dapatkan data suhu udara lingkungan cagar budaya untuk menjaga kelestarian dengan HOBO Data logger

Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan, Struktur, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya, di darat dan/atau air, yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, melalui proses penetapan. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun dak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian- bagiannya, atau sisa-sisanya, yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Struktur Cagar Budaya adalah susunana binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana, untuk menampung kebutuhan manusia. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.

Candi Borobudur

Salah satu cagar budaya yang masih ada sampai saat ini adalah Candi Borobudur. Borobudur telah masuk sebagai warisan dunia (world heritage) sejak tahun 1991 dengan nomor 592. Borobudur terdaftar sebagai Borobudur Temple Compound yang terdiri dari Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Ketiga candi tersebut berada dalam satu kawasan yang diatur dalam satu sistem zonasi. Masuknya Borobudur sebagai warisan dunia bukan hanya sekedar status, namun lebih jauh membawa konsekuensi pengelolaan yang harus lebih baik.

Status sebagai warisan dunia menjadikan kelestarian Borobudur menjadi perhatian seluruh dunia. Hal-hal yang berkembang di situs warisan dunia akan menjadi sorotan sehingga harus dikelola dengan tepat. Dalam konteks pengelolaan warisan dunia, maka aspek nilai penting adalah yang utama untuk dipertahankan. UNESCO merumuskan nilai penting sebagai Outstanding Universal Value (OUV) yang khas untuk setiap situs yang masuk dalam daftar warisan dunia. Kelestarian nilai penting ini (OUV) mencerminkan kelestarian situsnya sebagai warisan dunia, sebaliknya hal-hal yang berpotensi menghilangkan nilai penting merupakan ancaman kelestarian warisan dunia. Pemahaman mengenai nilai penting dan melakukan upaya-upaya menjaga nilai penting ini merupakan hal yang pokok bagi pengelola warisan dunia. Borobudur temple compound masuk sebagai warisan dunia dengan kriteria OUV no i, ii, dan vi. Kriteria ini dijabarkan secara lebih khusus pada statement OUV Borobudur.

Secara ringkas statemen tersebut memberikan penekanan utama nilai penting sebagai berikut; (i)sebagai monumen masterpiece yang luar biasa (ii)sebagai monumen yang memiliki pengaruh perkembangan arsitektur dunia (vi)sebagai monumen yang secara harmonis mengawinkan konsep Buddhisme dengan seni asli nenek moyang bangsa Indonesia. Statemen tersebut dilengkapi dengan pernyataan autentisitas dan integritas, dimana orisinalitas material dan setting Candi Borobudur masih terjaga serta memiliki kesatuan dengan kawasannya.

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai harganya, baik yang berupa budaya materi (tangible) maupun budaya non materi (intangible). Budaya materi sering disebut dengan Cagar Budaya yang dibedakan menjadi dua, yaitu Cagar Budaya tidak bergerak dan Cagar Budaya bergerak. Cagar Budaya yang tidak bergerak ini mempunyai masa atau periode yang berbeda, yaitu periode prasejarah, periode klasik (Hindu–Buddha), Islam, dan Kolonial. Sedangkan jenis bangunannya menjadi beberapa, antara lain gua prasejarah, menhir, candi, pura, masjid kuno, rumah adat, benteng, gedung, dan lain sebagainya.

Namun pada saat ini Cagar Budaya telah banyak mengalami kerusakan, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu umur yang sudah tua, lingkungan alam maupun ulah manusia akibat pembangunan, dan lain sebagainya. Kalau hal ini dibiarkan maka kerusakan Cagar Budaya akan dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitasnya serta nilai intangible yang dikandungnya.

Pelestarian Cagar Budaya harus tetap terjaga agar tidak rusak dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya Akibat Perubahan Iklim

Kerusakan adalah suatu proses perubahan bentuk yang terjadi pada suatu benda dimana jenis dan sifat-sifat fisik maupun kimiawinya masih tetap (disintegrasi).

Pelapukan adalah suatu proses penguraian dan perubahan dari bahan asli ke bahan lain dimana jenis dan sifat-sifat fisik dan kimiawi dari bahan tersebut sudah berubah (dekomposisi).

1. Gejala Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya
a) Gejala kerusakan :
Biasanya dapat dilihat secara visual/langsung (retak, patah, miring, pecah, bengkok dll)
b) Gejala pelapukan :
Pada tingkat awal belum nampak dan baru nampak pada tingkat menengah hingga lanjut, (diskomposisi, pembusukan, perubahan warna).

2. Faktor Penyebab Kerusakan dan Pelapukan Material Cagar Budaya
Kerusakan dan pelapukan bisa disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal penyebab kerusakan dan pelapukan antara lain adalah:
– Kualitas dan jenis material
– Teknologi pembuatan struktur bangunan
– Sifat tanah sebagai dasar bangunan

Dampak perubahan iklim global terhadap kelestarian benda cagar budaya :

  • Meningkatnya kerusakan bangunan karena adanya perubahan daya dukung tanah, erosi, banjir, longsor, dan kapilarisasi air, yang disebabkan oleh meningkatnya runoff dan debit aliran air pada daerah basah (contoh Stasiun Tawang, Gedung Sobokarti Semarang).
  • Meningkatnya risiko kebakaran pada bangunan kayu.
  • Meningkatnya kerusakan fisis (retak, pecah, melengkung, degradasi warna) pada bangunan batu, bata, dan kayu karena fluktuasi suhu yang sangat besar dan intensitas penyinaran yang lebih tinggi (contoh Gereja Blendok Semarang).
  • Proses pelapukan kimiawi akan lebih cepat, karena banyaknya unsur terlarut, dan meningkatnya penguapan (misal pengelupasan, penggaraman dan degradasi struktur material).
  • Pertumbuhan mikroorganisme pada daerah basah akan meningkat, sedangkan pada daerah kering pertumbuhan mikroorganisme tertentu yang bisa bertahan hidup (golongan mikroorganisme thermofil). Serangan serangga pada bangunan kayu akan meningkat, seiring dengan tingkat kelembaban dan kekeringan yang tinggi

Kita mempunyai alat yang dapat mengontrol suhu udara, sehingga dapat meminimalisir terjadinya kerusakan cagar budaya akibat perubahan iklim dan bencana alam lainnya.

Pencatat data Suhu / Kelembaban Relatif HOBO Pro v2 adalah pencatat data tahan cuaca dengan sensor suhu dan kelembaban relatif bawaan. Sensor Kelembaban Relatif memberikan daya tahan yang unggul di lingkungan yang lembab.

Fitur HOBO U23 Pro v2 Data Logger

  • Weatherproof Housing digunakan untuk di luar ruangan atau lingkungan kondensasi
  • Akurasi tinggi Sensor
  • Kelembaban Relatif yang Dapat diganti memberikan respons cepat dan pemulihan yang unggul dari kondisi kondensasi
  • Versi sensor eksternal berdiameter kecil untuk pengukuran di ruang sempit
  • Antarmuka USB optik untuk unduhan yang cepat dan andal
  • Kompatibel dengan perangkat lunak HOBOware dan HOBOware Pro untuk pengaturan logger, grafik dan analisis (HOBOware Pro diperlukan saat menggunakan shuttle U-DTW-1 Waterproof)

Spesifikasi HOBO U23 Pro v2 Data Logger

Temperature Sensor

Operation RangeU23-001A internal sensor: -40 to 70°C (-40 to 158°F)
U23-002A external temperature sensor: -40 to 70°C (-40 to 158°F)
U23-003 and U23-004 external sensors: -40 to 100°C (-40 to 212°F), with tip and cable immersion in fresh water up to 50°C (122°F) for one year
AccuracyU23-001A and U23-002A: ±0.25°C from -40 to 0°C (±0.45 from -40 to 32°F), ±0.2°C from 0 to 70°C (±0.36 from 32 to 158°F)
U23-003 and U23-004: ±0.21°C from 0° to 50°C (±0.38°F from 32° to 122°F); see Plot A
ResolutionU23-001A and U23-002A: 0.04°C (0.072°F)
U23-003 and U23-004: 0.02°C at 25°C (0.04°F at 77°F); see Plot A
Response Time
(Typical to 90%)
U23-001A internal sensor: 10 minutes in air moving 1 m/sec
U23-002A external temperature sensor: 3 minutes, 45 seconds in air moving 1 m/sec
U23-003 and U23-004 external sensors: 3 minutes in air moving
1 m/sec; 30 seconds in stirred water
DriftU23-001A and U23-002A: <0.01°C (0.018°F) per year
U23-003 and U23-004: <0.1°C (0.18°F) per year

Sumber :

http://borobudurpedia.id/media/ebook/10th.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *