Hubungan Pola Curah Hujan dan Performa Tanaman Kelapa Sawit di Pulau Sumater dan kalimantan Selama El Nino

El Niño adalah abnormalitas iklim yang menyebabkan wilayah Pasifik Barat (Indonesia dan
Australia) mengalami curah hujan di bawah normal (Tjasyono, 2009 dan Ratag, 2004). Menurut Harun et al. (2014), telah terjadi 10 kejadian El Niño (3 kuat, 5 moderat, dan 2 kejadian El Niño lemah) selama kurun waktu 1980-2013.

El Niño yang terjadi pada tahun 2015 (El Niño 2015) disebutkan oleh banyak pihak sebagai salah satu El Niño kuat (Gambar 1). Tingkat kekuatan El Niño biasanya ditentukan berdasarkan Southern Oscillation Index (SOI) atau Indeks Osilasi Selatan ; yaitu jika SOI dibawah -7 berturut-turut selama 3 bulan mengindikasikan terjadinya El Niño, sedangkan nilai SOI diatas +7 berturut-turut selama 3 bulan mengindikasikan kejadian La Niña.

Penelitian dilakukan pada wilayah-wilayah sentra penanaman kelapa sawit di Sumatera dan
Kalimantan, yaitu : Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara (Ditjenbun, 2014).

Pengamatan performa tanaman kelapa sawit (kondisi morfologis) dilakukan di beberapa kebun kelapa sawit di wilayah kajian pada Agustus-November 2015; Aceh (7 kebun), Sumatera Utara (33 kebun), Sumatera Barat (4 kebun), Riau (20 kebun), Jambi (8 kebun), Sumatera Selatan (7 kebun), Bengkulu (1 kebun), Lampung (3 kebun), Kalimantan Barat (9 kebun), Kalimantan Tengah (3 kebun), Kalimantan Selatan (3 kebun), Kalimantan Timur (5 kebun), dan Kalimantan Utara (1 kebun). Pengamatan dilakukan dengan cakupan minimal 75% dari luas total kebun.

Data curah hujan Januari-Desember 2015 diperoleh dari website http://www7.ncdc.noaa.gov/CDO/cdodata.cmd yang dikelola oleh National Environmental Satellite, Data, and Information Services (NESDIS) Amerika, data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat, serta data penakar hujan di kebun kelapa sawit. Data curah hujan harian diolah menggunakan Ms. Excel 2013 untuk memperoleh jumlah bulan kering serta deret hari terpanjang tidak hujan (dry spell).Sementara itu, nilai defisit air dihitung menggunakan
Metode Tailliez (1973).

Secara umum, keragaman iklim di Indonesia disebabkan oleh tiga sirkulasi yaitu sirkulasi Walker,
Hadley, dan lokal. Sirkulasi Walker dapat dilihat pada kejadian IOD di Samudera Hindia maupun ENSO di Samudera Pasifik. Sirkulasi Hadley dapat dilihat pada proses sirkulasi angin monsun. Sementara itu, sirkulasi lokal dapat dilihat perannya pada pembentukan hujan konvektif yang dipengaruhi kondisi topografi lokal (Harijono, 2008).

Dewasa ini teknologi alat pemantau curah hujan semakin canggih, dengan adanya dukungan teknologi internet data curah hujan dapat di pantau pada kondisi saat itu langsung dari jarak jauh menggunakan Weather Station(AWS) HOBO RX3000 Data Logger. Dengan AWS HOBO RX3000 selain curah hujan kita juga bisa melakukan penelitian lebih lanjut dengan parameter sensor cuaca yang lengkap seperti ; Radiasi Sinar Matahari (Solar Radiation), Arah dan Kecepatan Angin (Wind Speed and Wind Direction), Suhu dan Kelembaban Udara (Temperature and RH), Tekanan Udara (Barometric Pressure), Suhu dan Kelemaban Tanah (Soil Moistrue), Tingkat Kebasahan Daun (Leaf Weatness) dan Ketinggian Air (Water Level).

HOBO RX3000 Data Logger, AWS untuk Perkebuanan Kelapa Sawit

HOBO RX3000 Data Logger memiliki keunggulan dari desain yang tahan terhadap kondisi cuaca terburuk karena sudah di lengkapi dengan proteksi(weatherproof Eclosure) dan NEMA 4X yang menjamin data logger akan tetap aman dari cuaca buruk seperti hujan, badai dan sambaran petir.HOBO RX3000 juga memiliki keunggulan dalam konektifitas data yang dapat di pantau online monitoring menggunakan web HOBOLINK sehingga penelitin tidak harus datang ke lapangan untuk melakukan pengambilan data.Terdapat 3 pilihan konektifitas yaitu, Ethernet cable, WIFI dan 4G GSM.

Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa pola curah hujan ekuatorial terdapat di wilayah Sumatera Utara; sepanjang pantai barat Sumatera; Kalimantan bagian utara; Sulawesi bagian utara, tengah dan tenggara; Maluku bagian selatan, serta Papua bagian tengah. Pola curah hujan lokal terdapat di sebagian kecil Sulawesi, Maluku, dan Papua, sedangkan pola curah hujan monsonal terdapat di Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Papua bagian
selatan, serta Jawa, Bali, NTT, NTB, dan pulau-pulau kecil disekitarnya.

Performa tanaman kelapa sawit

Menurut Siregar et al. (2006), cekaman kekeringan pada tanaman kelapa sawit akan terjadi apabila terdapat salah satu dari parameter-parameter ini terpenuhi: curah hujan (CH) kurang dari 1250 mm/tahun, defisit air di lahan lebih dari 200 mm/tahun, terjadi bulan kering lebih dari 3 bulan, serta deret hari terpanjang tidak hujan (dry spell) lebih dari 20 hari. Berdasarkan pengamatan lapangan, diketahui bahwa sebagian besar tanaman kelapa sawit mengalami
cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai dengan munculnya lebih dari dua daun tombak, banyak muncul bunga jantan, malformasi tandan, pelepah sengkleh, dan pelepah lingkar terbawah mengering (Tabel 1).

Kondisi tersebut sejalan dengan beberapa hasil penelitian terdahulu, yang menyatakan bahwa cekaman kekeringan dapat menyebabkan laju produksi pelepah daun menurun, menurunkan nilai sex ratio dan jumlah tandan buah, meningkatkan tingkat aborsi / gugur bunga dan gagal tandan (Siregar et al., 1995; Rizal dan Tsan, 2007; Bakoume et al., 2013). Selain itu, secara umum hasil penelitian ini sesuai dengan hasil kajian Siregar et al. (1995) yang menyatakan bahwa cekaman kekeringan pada tanaman kelapa sawit dapat dibagi menjadi beberapa stadia berdasarkan tingkat defisit air yang terjadi (Tabel 2). Semakin besar nilai defisit air, maka
akan semakin banyak jumlah daun tombak dan pelepah yang patah

Sumber Informasi : Darlan N.H., Iput Pradiko, Winarna, Hasril H. Siregar. 2016. Dampak El Nino 2015 terhadap performa tanaman kelapa sawit di Bagian Tengah dan Selatan Sumatera. Jurnal Tanah dan Iklim Vol. 40 No. 2 Hal. 35 – 42 (untuk mengunduh file silakan kunjungi: http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jti/).

Pilihan HOBO Data Logger untuk AWS Weather Station

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *