Pemanfaatan Data Iklim Menggunakan AWS Weather Station Untuk Perkebunan Sawit di Indonesia

Iklim dan cuaca sebagai salah satu faktor penting dalam pertumbuhan, perkembangan dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang sampai kini belum sepenuhnya dipahami dan dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini, disebabkan masih terbatasnya kuantitas data, kualitas peralatan maupun pemahaman iklim dalam hubungannya dengan berbagai aspek perkebunan
kelapa sawit.

Sampai saat ini pemanfaatan data iklim masih bersifat umum yaitu untuk memperkirakan waktu melakukan tindakan kultur teknis, seperti pembibitan, pembukaan lahan dan waktu pemupukan. Peranan iklim bagi pekebunan kelapa sawit pada masa mendatang perlu lebih ditingkatkan terutama dalam perencanaan serta antisipasi penyimpangan iklim (climate anomaly) maupun perubahan iklim (climate change).

Selain itu, perkebunan kelapa sawit harus mulai membangun jaringan iklim. Pembangunan jaringan iklim yang terkendala dengan mahalnya biaya pembangunan stasiun iklim dapat ditutupi dengan pengadaan AWS. Integrasi antara stasiun klimatologi konvensional dan AWS tetap diperlukan agar dapat diperoleh suatu data iklim yang komprehensif dan kontinu.

HOBO RX3000 Automatic Weather Station

Iklim (climate) dan cuaca (weather) dinyatakan dengan besaran unsur fisika atmosfer yang nantinya disebut unsur iklim atau unsur cuaca. Unsur iklim atau unsur cuaca terdiri atas suhu udara, intensitas radiasi surya, lama penyinaran. kecepatan dan arah angin, kelembaban udara, tekanan udara, penutupan awan, presipitasi (curah hujan), serta evapotranspirasi (Nasir, 2008)

Peningkatkan pemahaman terhadap peranan ilmu iklim dan cuaca serta pemanfaatannya merupakan upaya penting dalam peningkatan manajemen perkebunan yang lebih baik. Hal ini karena iklim-lah yang menentukan jenis tanaman yang dapat ditanam pada suatu kawasan, sedangkan cuaca sangat berpengaruh terhadap hasil per hektar (produktivitas) yang akan diperoleh (Baharsjah, 1991).

Sebagai contohnya, produktivitas sebuah lahan pertanian dari waktu ke waktu selalu berbeda-beda, meskipun jenis bahan tanaman maupun perlakuan kultur teknis yang digunakan sama. Keadaan ini disebabkan kondisi unsur iklim/cuaca (curah hujan, radiasi matahari, dan sebagainya) yang tidak pernah sama untuk setiap tahap pertumbuhan tanaman maupun rentang waktu yang berbeda (Blantaran de Rozari, 1990).

PENGARUH IKLIM TERHADAP PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman, tanpa terkecuali kelapa sawit, sangat bergantung pada faktor genetik, kondisi tanah dan iklim (Hartley, 1977).

Selain itu, produktivitas yang tinggi juga tergantung pada tindakan kultur teknis dan pengelolaan perkebunan. Akan tetapi perlu diingat, iklim bukanlah satu-satunya komponen yang dibutuhkan secara esensial, tetapi iklim juga saling berinteraksi dengan faktor lain dalam memberikan daya dukung terhadap suatu sistem perkebunan. Tanpa mengesampingkan unsur iklim lainnya, unsur iklim yang berpengaruh dominan pada perkebunan kepala sawit di Indonesia adalah curah hujan, radiasi matahari, dan suhu udara (untuk kasus di dataran tinggi).

  1. Curah hujan
    Tanaman kelapa sawit tumbuh dengan baik di areal dengan curah hujan tahunan antara 1750 – 3000 mm dan menyebar merata sepanjang tahun (Adiwiganda et. al., 1999). Penyebaran curah hujan merata yang dimaksud adalah tidak terdapat perbedaan mencolok dari satu bulan ke bulan berikutnya dan tidak terdapat curah hujan bulanan di bawah 60 mm sehingga tanaman tidak mengalami cekaman. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Indonesia, telah diketahui curah hujan tahunan minimal untuk tanaman kelapa sawit adalah 1.250 mm tanpa bulan kering (curah hujan bulanan kurang dari 60 mm).
Sensor Curah Hujan HOBO Rainfall S-RGB-M002

Penyebaran curah hujan juga merupakan faktor penting untuk perkembangan bunga dan produksi tandan. Pada umumnya sewaktu musim hujan terbentuk lebih banyak bunga betina, sedang pada musim kemarau terbentuk lebih banyak bunga jantan (Turner, 1978). Selanjutnya telah diketahui bahwa sebagian besar dari produksi tandan pada tahun sedang berjalan sebenarnya sangat ditentukan oleh keadaan 24 – 42 bulan sebelumnya.

Keadaan ini disebabkan adanya hubungan yang erat antara curah hujan maupun radiasi matahari dengan sex ratio (Hartley, 1977). Penyebaran curah hujan yang mencolok terdapat pada perkebunan kelapa sawit di Afrika Barat dimana selama 2 – 4 bulan terjadi kekeringan, cenderung untuk mempertajam fluktuasi produksi tandan buah dari tahun ke tahun dengan hasil yang sangat rendah secara siklikal terjadi setiap 4 – 6 tahun (Ng, 1972).

  1. Radiasi matahari
    Tanaman kelapa sawit di lapang membutuhkan penyinaran matahari yang optimum untuk fotosintesinya, karena kelapa sawit merupakan jenis tanaman heliofit (penyuka matahari). Penyinaran matahari dibutuhkan sedikitnya 4 jam/hari sehingga diharapkan hujan turun pada sore atau malam hari. Sumber lain menyatakan bahwa kelapa sawit dapat tumbuh optimal dengan lama penyinaran 5 – 7 jam/hari atau 1.800 – 2.200 jam/tahun (Verheye, 2010). Lama penyinaran erat kaitannya dengan energi radiasi surya yang tersedia untuk fotosintesis tanaman. Semakin pendek lama penyinaran, tentu energi dari radiasi surya yang diabsorbsi tanaman akan semakin sedikit. Apabila hal ini berlangsung secara terus-menerus tentu akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan
    tanaman.

Selain itu, lama penyinaran yang kurang dapat menyebabkan penurunan produksi inflorescence betina (Verheye, 2010). Penurunan inflorescence betina akan berimbas pada penurunan sex ratio. Pengaruh radiasi matahari akan semakin besar bila curah hujan dalam keadaan optimal. Selain lama penyinaran, intensitas radiasi matahari terutama dari spektrum panjang gelombang 0,4 – 0,7 mikron (cahaya tampak) juga berpengaruh terhadap laju fotosintesis. Kombinasi antara
terganggunya pertumbuhan, perkembangan, dan penurunan sex ratio akan menyebabkan penurunan produktivitas tanaman. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa penurunan 20% intensitas radiasi matahari dari spektrum cahaya tampak (visible light) dapat menurunkan fotosintesis potensial tanaman hingga  50% (Ferwerda, 1977).

  1. Suhu udara
    Temperatur udara pada batas-batas tertentu berpengaruh terhadap metabolisme sel-sel pada organ tanaman yang akhirnya mempengaruhi pertumbuhan dan produksi. Perkebunan kelapa sawit dengan hasil yang tinggi terdapat pada kawasan-kawasan yang mempunyai variasi suhu udara bulanan yang kecil. Tanaman kelapa sawit tumbuh dan berkembang baik pada kawasan yang mempunyai suhu udara rata-rata tahunan 24 – 28oC (Ferwerda, 1977). Untuk produksi yang tinggi dibutuhkan suhu udara maksimum rata-rata pada kisaran 29 – 32 derajat Celcius dan suhu udara minimum rata-rata pada kisaran 22 – 24C (Hartley, 1977). Batas temperatur udara minimum rata-rata untuk syarat pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit adalah 18C, bila kurang akan menghambat pertumbuhan dan mengurangi hasil. Temperatur udara yang rendah pada bulanbulan tertentu akan menghambat penyerbukan bunga yang akan menjadi buah. Temperatur udara rendah akan meningkatkan aborsi bunga betina sebelum antesis dan memperlambat pematangan buah (Ferwerda, 1977).
12-bit Temperature/Relative Humidity (2m cable) Smart Sensor
Sensor Suhu dan Kelembaban Udara HOBO Temperature/Relative Humidity (2m cable) S-THB-M002

  1. Faktor iklim lain
    Faktor iklim lain misalnya kecepatan angin dan kelembaban udara merupakan pengaruh dari proses-proses dinamika unsur-unsur iklim/cuaca lainnya, seperti radiasi surya, curah hujan, suhu udara. Kecepatan angin yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan fisik pada pertanaman kelapa sawit. Kelembaban udara erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit kelapa sawit. Fluktuasi dan distribusi kelembaban udara menurut waktu serta tempat mengikuti fluktuasi unsur-unsur suhu, curah hujan dan radiasi matahari. Tanaman kelapa sawit tumbuh dengan baik di daerah tropis dengan kelembaban relatif 75 -80% (Hartley, 1977), dimana kelembaban optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit adalah sekitar 75% (Ferwerda, 1977). Kelembaba udara yang cukup tinggi ini berkaitan dengan radiasi surya dan suhu udara yang cenderung rendah dan curah hujan yang relatif tinggi. Kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabkan tanaman menjadi rentan terhadap serangan hama penyakit khususnya penyakit busuk buah Marasmius.
Sensor Kecepatan dan Arah Angin, HOBO Wind Speed and Wind Direction S-WSET-B

Sumber Informasi : Siregar H.H., N.H. Darlan, I. Pradiko. 2014. Pemanfaatan data iklim untuk perkebunan kelapa sawit. Disampaikan dalam SLI BMKG, 15 April 2014. Medan, Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *