Pengaruh perbedaan suhu tanah terhadap penetasan telur penyu

.Oseanografi (gabungan kata Yunani ὠκεανός yang berarti “samudra” dan γράφω yang berarti “menulis”), juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan, adalah cabang ilmu Bumi yang mempelajari samudra atau lautan. Ilmu ini mencakup berbagai topik seperti organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudra, gelombang, dan dinamika cairan geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut, kondisi batimetri, dan arus berbagai zat kimia dan fisika di dalam lautan dan perbatasannya. Topik-topik yang beragam ini menggambarkan berbagai macam disiplin ilmu yang digabungkan para oseanograf untuk memperdalam pengetahuan akan lautan dunia dan memahami proses di dalamnya, yaitu astronomi, biologi, kimia, klimatologi, geografi, geologi, hidrologi, meteorologi, dan fisika. Paleoseanografi mempelajari sejarah lautan dalam artian sejarah geologinya

Salah satu satwa yang terdapat di kawasan konservasi yang dilindungi yaitu penyu lekang (Lephidochelys olivaceae). Penyu termasuk hewan yang terdaftar dalam CITES (Convention On International Trade in Endangered Species Of Fauna and Flora) yaitu satwa-satwa yang terlarang untuk segala pemanfaatan dan perdagangannya. Penyu lekang (Lephidochelys olivaceae) berkembang biak dengan cara bertelur. Telur yang baru keluar dari perut penyu betina diliputi lendir, berbentuk bulat seperti bola pingpong, agak lembek dan kenyal. Pertumbuhan embrio sangat dipengaruhi oleh suhu. Embrio akan tumbuh optimal pada kisaran suhu antara 24–33 derajat celsius dan akan mati apabila di luar kisaran suhu tersebut. Kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan embrio sampai penetasan, antara lain yaitu suhu, kandungan air dalam pasir dan kandungan oksigen. Semakin tinggi suhu pasir, maka telur akan lebih cepat menetas. Embrio dalam telur akan tumbuh menjadi tukik mirip dengan induknya, setelah melewati masa inkubasi selama ±2 bulan. Suhu selama masa inkubasi selain akan mempengaruhi keberhasilan tetas dan lama masa inkubasi juga akan berpengaruh terhadap ukuran, morfologi dan kualitas tukik yang dihasilkan.

Materi dan Metode

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2013 di Kawasan Taman Buru Dataran Bena, Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana Kupang Alat yang digunakan antara lain: termometer tanah, kamera, stopwatch, meteran caliper, ember bak besar, paralon berukuran ¾, timbangan analitik, lampu belajar 100 watt 2 buah dan AC. Bahan yang digunakan antara lain: telur penyu lekang (Lepidochelys Olivaceae) sebanyak 48 butir, pasir lembab dari sarang alami. Pengamatan diawali dengan survei lokasi tempat penyu yang akan bertelur. Setelah induk penyu bertelur maka telur dipindahkan ke ember besar berukuran 20 L yang sudah berisi pasir setebal 10 cm dan dipasang pipa paralon berukuran ¾ dim tepat di atas telur kemudian ditutup dengan pasir sampai rata dengan permukaan ember.Telur diinkubasi sampai menetas pada 2 ruang inkubator yaitu suhu rendah yang dipasang Air Conditioner (AC) dengan suhu berkisar antara 24°C – 27°C dan suhu tinggi yang dipasang lampu pijar 100 watt dengan suhu berkisar antara 30°C – 33°C. Selama telur diinkubasi setiap 3 hari sarang disemprot dengan air sebanyak 3 – 5 mL di atas permukaan sarang.

Hasil Penelitian

Setelah telur menetas dilakukan pengamatan terhadap kualitas tukik yang meliputi morfometri tukik, gerakan lokomotorik dan berat tukik. Pengukuran morfometri tukik meliputi panjang karapas, lebar karapas, panjang plastron, lebar plastron, panjang kepala, panjang leher, panjang flipper, panjang tungkai dan bobot tukik Pengukuran gerakan lokomotor tukik mengacu pada Maulany (2007) yang meliputi:

  1. Kecepatan berjalan di darat yaitu tukik berjalan di dalam paralon sepanjang 1,5 m dengan cara tukik diletakan di ujung paralon tersebut dan dibiarkan berjalan hingga mencapai ujung lainnya, kemudian waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ujung paralon tersebut dicatat.
  2. Kemampuan membalikan tubuh yaitu tukik diletakan di atas pasir halus dan tubuhnya dibalik dengan cara plastron dibagian atas dan karapasnya dibagian bawah kemudian mencatat waktu yang dibutuhkan tukik untuk membalikan kembali tubuhnya.

Variabel Pengamatan

  1. Morfometri tukik meliputi : panjang karapas (diukur dari bagian depan sampai pangkal ekor), lebar karapas (diukur dari ujung bagian kiri sampai ujung bagian kanan), panjang plastron (diukur dari pangkal leher sampai pangkal ekor), lebar plastron (diukur dari ujung dada bagian kiri sampai ujung dada bagian kanan), panjang fliper (diukur dari pangkal lengan sampai ujung kuku), panjang tungkai (diukur dari pangkal paha sampai ujung kuku), panjang kepala (diukur dari ujung leher sampai ujung hidung), panjang leher (diukur dari pangkal leher sampai ujung leher).
Sketsa Pengukuran Morfometri Penyu Lekang (Lephidochelys olivaceae)
  1. Gerakan lokomotor meliputi kecepatan berjalan di darat dan kemampuan membalikan tubuh.
  2. Berat Tukik

Beberapa penelitian yang mengkaji mengenai teknik penetasan semi alami telur penyu lekang telah dilaksanakan namun hasilnya belum maksimal karena berbagai faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap daya tetas misalnya curah hujan yang tidak menentu dapat mengakibatkan peningkatan kadar air pasir sarang yang akan berpengaruh terhadap penurunan suhu yang akan merusak pertumbuhan embrio. Gangguan alami seperti sering turun hujan mengakibatkan telur yang ditetaskan baik alami maupun semi alami tidak banyak menetas dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang biasanya. Faktor lain yang turut berpengaruh juga yaitu faktor biotik seperti gangguan dari predator alami di sekitar pantai dan aktivitas manusia di sekitar pantai yang dapat merusak telur dan sarang.

Untuk membantu Pengukuran suhu tanah terhadap penetasan telur penyu dibutuhkan alat yang bisa mengukur suhu tanah tersebut.

HOBO USB Micro Station Data Logger
H21-USB

HOBO USB Micro Station yang didesain ulang adalah pencatat data tahan cuaca untuk pemantauan multi-saluran iklim mikro. Stasiun bertenaga baterai ini menerima hingga lima plug-and-play Smart Sensor dan memiliki pintu berengsel untuk membuat pemasangan sensor sederhana dan cepat. Stasiun Mikro dilengkapi dengan port USB bawaan untuk pembacaan data yang cepat dan efisien ke komputer, dan tab pemasangan terintegrasi untuk kemudahan pemasangan.

FIitur

  • Ukuran yang ringkas untuk penempatan yang mudah
  • Penutup IP66 tahan cuaca untuk lingkungan yang keras
  • Direct USB offload – tidak perlu kabel adaptor
  • Termasuk lima input sensor cerdas
  • Pintu berengsel dan tab pemasangan terintegrasi
  • Berjalan hingga satu tahun dengan empat baterai AA standar
  • Kompatibel dengan perangkat lunak HOBOware dan HOBOware Pro untuk pengaturan, grafik dan analisis logger
10HS Soil Moisture Smart Sensor
S-SMD-M005

Ukur kelembaban tanah di atas volume tanah yang besar dengan 10HS Soil Moisture Smart Sensor dengan harga terjangkau. Sensor ini mengintegrasikan Sensor 10HS yang telah terbukti di lapangan dan A / D 12-bit, memberikan akurasi ± 3% di sebagian besar kondisi tanah, dan akurasi ± 2% dengan kalibrasi khusus tanah. Penyelidikan 10cm mengukur kelembaban tanah di atas volume tanah yang lebih besar, membantu rata-rata setiap variabilitas tanah. Bacaan disediakan langsung dalam kadar air volumetrik. Desain frekuensi tinggi sensor meminimalkan efek salinitas dan tekstur dan memberikan rentang pengukuran yang luas.

Fitur

  • Mengukur volume tanah 1 liter yang besar, memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kelembaban tanah rata-rata
  • Menyediakan data secara langsung dalam kadar air volumetrik
  • Sirkuit frekuensi tinggi (70 MHz) memberikan akurasi yang baik bahkan di tanah dengan salinitas tinggi dan berpasir
  • Kompatibel dengan Onset yang berdiri sendiri dan stasiun cuaca berbasis web
12-Bit Temperature Smart Sensor
S-TMB-M0xx

Sensor Cerdas Suhu 12-bit memberikan akurasi total <± 0,2 ° C (<± 0,36 ° F) dan resolusi <± 0,03 ° C (<± 0,054 ° F) pada rentang dari 0 ° hingga 50 ° C (32 ° hingga 122 ° F). Rentang pengukuran penuh adalah -40 ° hingga 100 ° C (-40 ° hingga 212 ° F). Fitur pengukuran rata-rata yang dapat dipilih semakin meningkatkan akurasi. Tersedia dalam panjang kabel 2m, 6m dan 17m.

Fitur

  • Rentang pengukuran -40 ° hingga 100 ° C (-40 ° hingga 212 ° F)
  • Ujung sensor stainless steel
  • Sensor dan kabel diberi peringkat perendaman dalam air atau tanah hingga 50 ° C hingga 1 tahun

Jadi, Ketiga barang diatas dapat membantu mengukur kelembaban tanah yang berpengaruh terhadap penetasan telur penyu.

Sumber :

PENGARUH PERBEDAAN SUHU TERHADAP KUALITAS TUKIK PENYU LEKANG (Lephidochelys olivaceae) di TAMAN BURU DATARAN BENA, DESA BENA KECAMATAN AMANUBAN SELATAN KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
Ermelinda D. Meye, Joice J. Bana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *